CBSA

1 Apr

MAKALAH

STRATEGI DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

PENDIDIKAN NASIONAL MASA DEPAN

makalah ini di buat untuk memenuhi

tugas pengantar pendidikan

 

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

                                                                       Dosen Pembimbing:

Drs.Usep Kustiawan,M.Sn

 

Kelompok  12

Anggota :

              1. Diyan Kurnia A      110321419518

                                                                 2. Zainul Mustofa       110321419526

 

 

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

DESEMBER 201

 

KATA PENGANTAR

              

 

               Puji syukur kepada ALLAH SWT atas rahmat, taufik dan nik’matnya kepada semua makhluqnya. Oleh karena itu, kami dapat menyelesaikan makalah ini meskipun kami menyadari masih ada kekurangan.

               Kedua kalinya terima kasih kepada orang tua kami yang telah memberi kami motivasi untuk menuntut ilmu sebanyak – banyaknya.sehingga, kami bersemangat untuk belajar dengan tekun.

               Ketiga kalinya kami ucapkan terima kasih kepada bapak usep kustiawan yang membimbing kami untuk menyelesaikan makalah ini.

               Kami sebagai penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih ada kekurangan baik dalam segi isi dan penyajian . untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Semoga dengan terselesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan terutama bagi penulis.

 

 

 

                                                                                                                     penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah hak setiap warga negara di dunia. Pendidikan sangat diperlukan pada saat ini maupun masa depan. Seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan pendidikan yang dilaksanakan juga semakin maju. Namun, perkembangan pendidikan yang semakin maju tidak disertai dengan meningkatnya kualitas pendidikan terutama di Indonesia. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Di indonesia kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).

Kondisi pendidikan sekarang ini di indonesia masih menggunakan strategi pada zaman kolonial yaitu dengan sistem verbal murid hanya mendengarkan dan menghafal . mereka tidak di ajak untuk berfikir mengenai masa depannya nanti.sistem ini belum dapat menghasilkan siswa dan tenaga terdidik yang memilki kualitas dan kuantitas yang memadai, untuk mengembangkan dan mengelola sumber daya alam di indonesia yang melimpah.padahal, masa depan adalah suatu masa yang sangat kompleks yang memperlibatkan kesemerawutan dalam semua bidang baik ekonomi , sosial maupun moral.

Kondisi hampir semua lembaga pendidikan di indonesia dalam semua bidang tidaklah baik bahkan kurang . hal ini dapat dibuktikan dengan pendidikan nilai, masih ada siswa yang melanggar nilai pergaulan seperti berpacaran dan pergaulan bebas yang berujung pada kehamilan.

Memang sudah banyak yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatan pendidikan , mulai dari pengembangan prasarana dan sarana hingga perbaikan kurikulum.antara lain dengan membuat sekolah percobaan project yang akan menjadi pengendali dalam pendidikan di bawahnya , yang terbebankan pada IKIP di indonesia . namun, percobaan ini belum berhasil karena pergantian periode kepemimpinan pendidikan selalu membawa perubahan sistem yang masih berjalan. Dimulai dengan sistem yang mengedepankan aspek nilai, humaniora, matematik,hingga teknologi.

Kurikulum yang sedang berjalan pada saat sekarang ini di indonesia, belum mampu menumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotisme, bahkan hanya dapat mendidik siswa untuk berkembang hanya pada masa itu saja, padahal kehidupan berlangsung lebih lama hingga mati.dan juga dalam pembelajaran tenaga pendidik besifat subjek pendidikan padahal seharusnya sebagai fasilitator , sedangkan siswa sebagai objek pendidikan padahal seharusnya sebagai subjek pendidikan.

 

  1. Rumusan Masalah

1. Bagaimana strategi pendidikan masa depan?

2. Bagaimana proses belajar-mengajar dalam pendidikan nasional masa depan?

 

  1. Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui bagaimana strategi pendidikan masa depan
  2. Mengetahui bagaimana proses belajar-mengajar dalam pendidikan nasional masa depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.Strategi Pendidikan Masa Depan

Pendidikan amat berperan terhadap keunggulan suatu bangsa. Misalnya, bangsa Sparta 1000 tahun sebelum Masehi. Pada masa itu, bangsa-bangsa yang mendiami Balkan hidup terpencar dalam kota-kota kecil yang terpisah oleh gunung dan pulau-pulau. Mereka senantiasa dilanda perang antara sesamanya. Oleh karena itu, bangsa Sparta di bawah pimpinan Lycurgus, seorang pendidik, membangun kekuatan dengan sistem pendidikan militer yang keras sejak anak berusia 10 tahun. Akhirnya, Sparta disegani bangsa-bangsa di sekitarnya. Tentu saja strategi dan program pendidikan itu didukung oleh sistem sosial secara konsisten. Kemudian, “Pendidikan Sparta” menjadi amsal bagi pendidikan dengan disiplin keras.

Lain lagi dengan Jepang. Ketika mereka sadar telah tertinggal jauh dari bangsa Eropa, seperti Sparta juga, Jepang mengubah strategi pendidikan dengan tujuan mengejar ketertinggalan itu. Mereka melaksanakan program pendidikan yang ketat dan konsisten, ditunjang oleh seluruh kekuatan sosial dan ekonomi. Berbeda dengan Sparta, Jepang bukan hanya membangun kekuatan militer, melainkan juga membangun kekuatan ekonomi dan industri. Apa saja yang ada di Eropa mereka tiru. Sejak dari sistem tata negara, militer, industri, pendidikan, bahkan cara berpakaian pun. Namun, ada satu hal yang mereka pertahankan, yaitu kesadaran bahwa mereka adalah bangsa Jepang yang memiliki tradisi samurai yang sakral, yang terpelihara lebih dari 1000 tahun. Seperti Sparta juga, dengan kekuatan militernya Jepang menjarahi bangsa-bangsa sekitarnya. Meski akhirnya kekuatan militernya terkalahkan, semangat yang tertanam oleh sistem pendidikan yang strategis itu, Jepang tetap tampil sebagai bangsa yang kuat di bidang ekonomi.

        Lain lagi dengan Negara Indonesia.  Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku, ras , agama, dan sejumlah watak yang telah berkembang turun temurun kepada masyarakat yang bermukim di suatu wilayah tertentu di indonesia. Hal ini membuktikan bahwa didalam jati diri semua rakyat indonesia terpendam sejumlah karakter , kemampuan yang sangat baik dan dibutuhkan sendiri oleh rakyat indonesia.

 Masyarakat masa depan indonesia sudah barang tentu memiliki kekomplekan kebutuhan.mulai dari kebutuhan nilai dalam masyarakat, sosial , ekonomi , dan teknologi. Maka, strategi yang cocok bagi peserta didik  untuk menghadapi dan bertahan serta menaklukan masa depan haruslah yang berorientasi pada terbentuknya individu yang mampu menghadapi permasalahan tersebut.

 

Toffler (1970) menyebutkan masyarakat masa depan adalah masyarakat superindustrial. Untuk menciptakan pendidikan superindustrial, perlu ditentukan alternative masa depan. Alternatif yang bermuatan asumsi tentang jenis pekerjaan, profesi yang diperlukan antara 20-50 tahun yang akan dating. Dengan asumsi tersebut dapat dirumuskan ketrampilan, kognitif, dan afektif yang dibutuhkan manusia masa depan untuk menghadapi akselerasi perubahan (Toffler,1970).

Menurut tilaar (1993) bahwa ada 10 kecenderungan pengembangan pendidikan masa depan indonesia yaitu:

  1. Pemerataan pendidikan

Disini pemerintah mendapat tugas berat untuk memeratakan pendidikan di seluruh wilayah negar kesatuan republik indonesia . seharusnya, sarana prasarana di wilayah yang terpencil mendapatkan hak yang sama dengan di wilayah kota sehingga, proses pembelajaran tidak terganggu oleh hal – hal yang bersifat geografis.

  1. Kurikulum yang relevan dengan pembangunan nasional

Disini LPMP mendapat tugas untuk memberi masukan dan penelitian keadaan pendidikan agar kebutuhan pendidikan di indonesia berjalan dengan baik .

  1. Proses belajar mandiri

Disini peserta didik tidak harus diajak belajar dengan sistem verbal, yaitu pendidik sebagai subjek dan peserta didik sebagai objek tetapi pendidik sebagai fasilitator sedangkan peserta didik sebagai subjek proses pembelajaran.

  1. Tenaga pendidik yang profesional

Haruslah pendidik memiliki kemampuan yang tinggi terhadap bidang yang mereka tekuni dan minimal mempunyai keahlihan khusus dalam bidang tertentu.

  1. Pendidikan dan pelatihan yang terpadu

Haruslah proses pembelajaran dan pelatihan memiliki keseimbangan dalam porsi pemberian waktu. Sehingga , hasil yang dicapai seoptimal mungkin.

  1. Pendidikan tinggi sebagai partner in progres

Diharapkan perguruan tinggi meneliti dan selalu mencari titik temu dan terobosan serta strategi yang efektif untuk perkembangan pendidikan di bawahnya yang meliputi SMA,SMP dan lembaga pendidikan dibawahnya.

  1. Pendidikan berkelanjutan

Dalam artian proses belajar selalu terus berjalan hingga manusia mati. Sehingga ilmu tidak akan pernah luntur atau bahkan hilang ketika dibutuhkan.

  1. Pembiayaan yang memadai

Haruslah pemerintah maupun peseta didik  memenuhi seluruh administrasi  agar proses pendidikan berjaln dengan lancar. Disini kesadaran akan pentingnya biaya dibutuhkan , yang kaya membayar lebih mahal dibandingkan yang kurang mampu lebih murah.

  1. Partisipasi masyarakat

Kepedulian masyarakat akan pentingnya pendidikan sangat diperlukan karena tanpa masyarakat yang berpartisipasi semua ini tidak ada artinya.

  1. Managemen pendidikan yang efektif

Pengaturan dan keteraturan dalam penyelenggaraan mutlak sangat diperlukan, karena tanpa itu akan terjadinya kesemerawutan pendidikan yang akan berdampak pada pembuangan waktu dan kegiatan tanpa hasil .

Naisbitt (1990) menekankan pentingnya pendidikan nilai bagi pendidikan masa depan. Hal ini dilatari oleh kecenderungan masa depan yang ditandai oleh berkembangnya bioteknologi. Kecenderungan di bidang bioteknologi ditandai keberhasilan ilmuwan dalam memecahkan masalah DNA (deoxyribonucleaid acid). Di bidang pertanian dikembangkan varietas unggul, demikian pula di bidang peternakan. Bagaimana kemungkinan menemukan varietas unggul untuk manusia?

Masa depan adalah masa yang komplek bahkan kaum futurology sudah tidak sanggup lagi untuk meramalkan hari depan (Soedjatmoko, dalam Oetomo, 1990). Kalau demikian halnya, pendidikan masa depan harus mampu mendidik individu yang mampu menghadapi kekomplekan masa depan. Tujuan pendidikan diarahkan untuk mewujudkan manusia yang dapat mengikuti keadaan masa depan. Tujuan pendidikan bukan diarahkan untuk melahirkan individu yang terpragmentasi dalam bidang-bidang spesialisasi. Melainkan dapat mewujudkan individu yang utuh, sebagaimana yang terumus dalam tujuan pendidikan, dalam Undang-Undang No.2  Tahun 1989 tersebut, dijelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah (1) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (2) mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Akibat akselerasi perubahan, ilmu pengetahuan cepat menjadi using, dan ditunjang pula bertambahnya jangka hayat hidup manusia, menyebabkan banyak keterampilan yang telah dipelajari menjadi tidak lagi relevan. Oleh karena itu, pendidikan di masa superindustrial di masa  depan harus menerapkan strategi life long education yang dimulai dan diakhiri sesuai kebutuhan ( Tofler,1987). Tentu saja hal ini akan berimplikasi pada perubahan kurikulum dan komponen-komponen lain dalam system pendidikan.

Kurikulum dalam rangka pendidikan seumur hidup, perlu menawarkan pendidikan inti yang efektif yang diperlukan untuk belajar seumur hidup.  Menurut skager dan dave (1977) kriteria kurikulum dalam rangka mendukung pendidikan seumur hidup adalah :

  1. Kurikulum sekolah harus menganggap belajar sebagai proses yang terus – menerus,

Sekolah hanya memberikan dasar – dasar ilmu pengetahuan sedangkan pengembangan dan penggunaannya manusia sendiri yang mencarinya.

  1. Kurikulum sekolah harus harus di pandang dalam kontek belajar di rumah , masyarakat , dan tempat belajar,

Proses pembelajaran dan pengamalan serta pendalaman materi lebih lanjut tidak hanya dilakukan di sekolah saja tetapi juga di masyarakat dan tempat lain.

  1. Kurikulum sekolah mengakui interrelasi beberapa subjek studi,

Hubungan antara studi satu dengan yang lain pasti ada dan mereka tidak dapat dipisahkan jadi dalam pembelajaran semua itu perlu untuk di kaji semua tidak ada yang dikalahkan.

  1. Kurikulum sekolah harus mengakui sekolah sebagai salah satu agen dalam menyajikan pendidikan dasar

Sekolah mengakui bahwa sekolah hanya salah satu, bukan satu satunya lembaga pendidikan yang memberi ilmu.tetapi masih banyak tempat manusia untuk belajar selain di sekolah seperti di masyarakat, keluarga , lingkungan tempat tinggal dan lain – lain.

  1. Kurikulum sekolah perlu menekankan otodidak,

Seluruh studi hanya mengajarkan permasalahan yang tertera dalam kurikulum , dan tidak menyeleweng ke permasalahan lain.

  1. Kurikulum sekolah mengingat kebutuhan individu

Perangkat pengajaran harus bisa menghormati hak hak manusia.

 

B. Proses Belajar-Mengajar dalam Pendidikan Nasional Masa Depan

Proses belajar untuk menghadapi perubahan menurut Biggs(1973) adalah (1) proses untuk memiliki dan mengalokasikan informasi, (2) proses untuk memiliki keterampilan tingkat tinggi menggenalisisir, (3) proses memiliki strategi umum untuk memecahkan problema, (4) proses menetapkan tujuan belajarnya sendiri, (5) proses mengevaluasi hasil belajarnya sendiri, (6) motivasi yang tepat dan, (7) proses memiliki konsep dan yang tepat (Biggs,1977 dalam Cropley).

Dalam rangka pendidikan masa depan, anak perlu diarahkan untuk pencapaian optimalisasi proses belajar. Di tinjau dari sudut psikologi proses belajar optimal memerlukan perkembangan domain intelektual, kognitif, motivasi dan sosio afektif. Terjadinya keterkaitan di bidang intelektual dan kognitif, dimana pengetahuan dasar saat ini merupakan dasar (prerequisite) untuk mengembangkan kognitif tingkat yang lebih tinggi. Dalam kerangka itu, anak harus diperlengkapi dengan teknik-teknik untuk mendapatkan pengetahuan dan didasarkan akan sumber-sumber pengetahuan diluar guru dan sekolah. Dan yang lebih penting dari itu,mereka harus terampil untuk menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah-masalah belajar.

Dalam rangka optimasi proses belajar, anak harus mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Anak harus mampu mengembangkan kemampuannya untuk belajar dalam berbagai teknik dan setting belajar. Anak harus dapat menemukan sendiri pengetahuannya dan mengolah pengetahuannya itu, dan dengan terampil dapat memanfaatkannyauntuk memecahkan masalah. Anak dapat belajar dengan strategi dan setting, misalnya belajar perorangan, kelompok dan seterusnya. Anak telah mempunyai (1) ketrampilan belajar, seperti ketrampilan membaca, menulis, mengamati dan mendengarkan, komunikasi verbal da non verbal, (2) ketrampilan dasar intelektual seperti mengadakan dasar penalaran, berpikir kritis, dan menafsirkan data, (3) ketrampilan menggunakan bermacam-macam alat belajar seper[ti media cetak, media masa dan berbagai instruksional material, (4) kemampuan mengidentifikasi kebutuhan belajarnya. Pendek kata untuk menunjang proses pembelajaran optimal, anak dituntut mempunyai hal-hal sebagai berikut:

  1. Kemampuan mendapatkan dan menggunakan informasi.
  2. Ketrampilan intelektual dan kognitif yang tinggi.
  3. Kemampuan belajar melalui berbagai strategi dan setting belajar.
  4. Kemampuan menilai hasil belajar sendiri.
  5. Memiliki motivasi belajar yang tinggi.
  6. Adanya pemahaman diri sendiri.

Kegiatan belajar anak dalam rangkat tersebut di atas, harus diarahkan kepada peningkatan cara belajar siswa aktif. Melalui cara belajar aktif tersebut, anak dapat berkembang kemampuan dan keinginannya untuk belajar secara mandiri. Dengan CBSA anak mampu belajar dalam arti yang sebenarnya. Anak dapat memproses dan menggunakan pengetahuan sebagai dasar untuk  mengembangkan pengetahuan dalam berpikir kritis, kreatif dan penalaran yang tinggi.

Peningkatan kadar CBSA dalam kegiatan pembelajaran, berarti menuntut penggunaan strategi dan metode pembelajaran secara kaya dan beraneka ragam. Penerapan berbagai metode pembelajaran secara self directed learning (dapat mengarahkan dirinya sendiri untuk belajar) dan interlearning (belajar sesama teman).

Penerapan CBSA dalam proses pembelajaran bertumpu pada sejumlah rasional. Yang terpenting diantaranya ialah rasional yang berkaitan langsung dengan upaya perwujudan tujuan utuh pendidikan serta karakteristik manusia dan masyarakat masa depan Indonesia yang dikehendaki.

Dewasa ini, seperti diketahui, kita telah memasuki ambang “masyarakat belajar”, yaitu masyarakat yang menghendaki pendidikan seumur hidup. Dalam latar pendidikan seumur hidup, proses belajar mengajar di sekolah seyogyanya mengemban misi utama, yaitu membelajarkan peserta didik sehingga pada saatnya nanti peserta didik memiliki kemampuan untuk belajar mandiri sebagai basis dari pendidikan seumur hidup.

Sebagaimana telah diungkapkan bahwa meskipun telah lama dipahami bahwa belajar memerlukan keterlibatan secara aktif orang yang belajar, kenyataan masih menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Dalam proses pembelajaran masih tampak adanya kecenderungan meminimalkan peran dan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa lebih banyak berperan sebagai peserta pasif. Proses pembelajaran sebagaimana digambarkan, jelas tidak mungkin mampu mempersiapkan peserta didik untuk mampu bersaing dalam kehidupan dan menyesuaikan diri terhadap berbagai tantangan yang makin berat. Pembelajaran seyogyanya diorientasikan pada pembentukan kemampuan bersikap dan berfikir kritis dibangun di atas konsep-konsep dari sistem filosofis yang kuat, dilakukan melalui proses pengajaran yang memberikan berbagai peluang dan pengalaman yang bermakna.

Secara umum, esensi tujuan pendidikan, menurut T. Raka Joni (1980) adalah pembentukan manusia yang bukan hanya dapat menyesuaikan diri hidup di dalam masyarakatnya, melainkan lebih dari pada itu, mampu menyambung bagi penyempurnaan masyarakat itu sendiri. Ini berarti bahwa para lulusan suatu lembaga pendidikan bukan hanya menghayati dan menginternalisasi nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakatnya, akan tetapi juga, apabila itu diperlukan, juga mampu mendeteksi kekurangan-kekurangannya sehingga memungkinkan penyempurnaannya.

Pendekatan CBSA dapat diterapkan dalam pembelajaran dalam bentuk-bentuk : 1) Pemanfaatan waktu luang, 2) pembelajaran individual, 3) belajar kelompok, 4) bertanya jawab, 5) belajar mandiri.

Beberapa diantaranya akan diuraikan di bawah ini :

1) Pemanfaatan waktu luang.  Pemanfaatan waktu luang di rumah oleh siswa memungkinkan dilakukannya kegiatan belajar aktif, dengan cara menyusun rencana belajar, memilih bahan untuk dipelajari, dan menilai penguasaan bahan bahan sendiri. Jika pemanfaatan waktu tersebut dilakukan secara seksama dan berkesinambungan akan memberikan manfaat yang baik dalam menunjang keberhasilan belajar di sekolah.

2)Pembelajaran individual. Pembelajaran individual adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik perbedaan individu tiap siswa, seperti : minat abilitet, bakat, kecerdasan, dan sebagainya. Guru dapat mempersiapkan/ merencanakan tugas-tugas belajar bagi para siswa, sedang pilihan dilakukan oleh siswa masing-masing, dan selanjutnya tiap siswa aktif belajar secara perseorangan. Teknik lain, kegiatan belajar dilakukan dalam bentuk kelompok, yang terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan, minat bakat yang sama.

3) Belajar kelompok. Belajar kelompok memiliki kadar CBSA yang cukup tinggi. Teknik pelaksanaannya dapat dalam bentuk kerja kelompok, diskuis kelompok, diskusi kelas, diskusi terbimbing, dan diskusi ceramah. Dalam situasi belajar kelompok, masing-masing anggota dapat mengajukan gagasan, pendapat, pertanyaan, jawaban, kritik dan sebagainya. Siswa aktif berpartisipasi, berelasi dan berinteraksi satu dengan yang lainnya.

4)Bertanya jawab. Kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa, antara siswa dengan siswa, dan antar kelompok siswa dengan kelompok lainnya memberikan peluang cukup banyak bagi setiap siswa belajar aktif. Kadar CBSA-nya akan lebih besar jika pertanyaan-pertanyaan tersebut timbul dan diajukan oleh pihak siswa dan dijawab oleh siswa lainnya. Guru bertindak sebagai pengatur lalu lintas atau distributor, dan dianggap perlu guru melakukan koreksi dan perbaikan terhadap pertanyaan dan jawaban-jawaban tersebut.

5) Belajar Inquiry/ Discovery (Belajar Mandiri). Dalam strategi belajar ini, siswa melakukan proses mental intelektual dalam upaya memecahkan masalah. Dia sendiri yang merumuskan suatu masalah, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan serta mengaplikasikan hasil belajarnya. Dalam konteks ini, keaktifan siswa belajar memang lebih menonjol, sedangkan kegiatan guru hanya mengarahkan, membimbing, memberikan fasilitas yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan inkuirinya.

Pengambilan bagian secara aktif dalam kegiatan belajar oleh anak dapat meningkatkan keterlibatan mental, emosional anak disamping keterlibatan fisik. Keterlibatan mental intelektual dan emosional sekaligus berarti pembangkitan motivasi. Menghadapi tuntutan pendidikan masa depan, peranan guru dalam proses pembelajaran optimal perlu disesuaikan dengan tuntutan perlunya proses belajar optimal.

Peranan guru dalam proses belajar optimal memiliki berbagai bentuk sesuai dengan pengaruhnya terhadap sikap, struktur motivasi dan ketrampilan kognitif anak. Di dalam domain sikap, tugas guru membantu anak untuk mengambil sikap yang kreatif dalam proses pembelajaran. Membantu anak untuk berpikir kritris dalam menghadapi masalah-masalah agar dapat mengatasi secara efektif dan efisien. Membantu anak untuk memperoleh pengalaman. Di dalam motivasi, tugas guru adalah membangkitkan anak dalam proses belajar dan membangkitkan keinginan anak untuk secara kontinyu mau belajar.Sedangkan dalam domain kognitif, tugas guru adalah memperlengkapi kemampuan untuk belajar dalam memperoleh pengetahuan dan ketrampilan. Tugas ini dapat dikembangkan melalui pembinaan dalam mengenal dan menggunakan metode-metode ilmiah dan pembinaan untuk mengenal sumber-sumber belajar.

Peranan fundamental guru, utamanya dalam bidang kognitif yaitu meningkatkan kemampuan anak untuk menemukan pengetahuan baru menganalisa proses belajar anak. Untuk yang terakhir ini dikembangkan melalui pembelajaran dengan pendekatan ketrampilan proses. Dalam rangka memandu konsep belajar sepanjang hayat, guru hendaknya telah menjadi pelajar sepanjang hayat. Guru tidak pernah berhenti belajar. Sehingga tindakannya itu, menjadi contoh bagi anak-anak. Peranan tradisional yang mengatakan guru sebagai penyalur pengetahuan dan sumber dari segala ilmu pengetahuan harus berubah. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar anak. Guru sebagai fasilitator belajar anak, akan berfungsi sebagai manajer dalam setting belajar anak. Sebagai advisor, penasehat anak dalam menghadapi kesulitan. Sebagai observer, pengamat kegiatan anak. Dan sebagai evaluator, yang bertugas untuk mendeteksi kemajuan belajar anak. Guru tidak berperan sebagai “pemberi fakta” yaitu orang yang hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak, tetapi membantu anak untuk mendiagnosis kebutuhan belajar, mengkoordinasikan anak dalam setting belajar yang tepat. Guru-guru menjadi penasehat (advisor) bagi anak-anak. Guru sebagai penasehat berarti harus mampu mendiagnosis kesulitan belajar anak sehingga dapat memberikan layanan belajar dengan tepat. Sebagai implikasi dari proses belajar optimal, narasumber dalam belajar anak bukan semata-mata guru. Atau bahkan konsep tentang guru diperluas. Dalam pengertian ini, yang disebut guru adalah semua orang yang dapat dijadikan narasumber dalam kegiatan belajar anak. Tentu saja akan menjadi perdebatan sebab konsep guru yang sedemikian akan mengaburkan siapa guru yang sebenarnya. Apapun sebutannya, apakah narasumber atau juga guru, yang jelas dalam proses pembelajaran murid harus dapat memanfaatkan pengetahuan, pengalaman orang sumber di luar guru kelas atau guru bidang studi. Guru bukanlah satu-satunya sumber yang menguasai segalanya. Sehubungan dengan itu, dituntut kemampuan guru untuk mengkoordinasikan orang-orang sumber tersebut agar dapat membantu belajar anak. Orang-orang sumber yang dapat dikoordinasikan untuk membantu anak dalam belajar misalnya ahli pustakawan, perawat kesehatan, penjaga museum, dokter, ahli farmasi, petani, dll.

Konsekuensi dari peranan guru tersebut di atas, sudah tentu akan berdampak pada sistem penilaian. Dalam hal ini, penilaian tidak semata-mata diarahkan pada hasil belajar anak, akan tetapi lebih luas daripada itu. Penilaian kegiatan pembelajaran harus mencakup hasil dan proses belajar anak. Penilaian hasil maksudnya penilaian terhadap penguasaan pengetahuan anak. Sedang penilaian proses mengacu pada penilaian terhadap proses belajar anak. Misalnya penilaian tentang sikap belajar, penilaian terhadap ketrampilan proses (ketrampilan mengamati, menggolongkan, penelitian, dan ketrampilan komunikasi). Penilaian ketrampilan proses ini diuraikan dalam bab tersendiri.

Dalam proses pembelajaran optimal pada hakikatnya adalah penerapan proses pembelajaran yang dilandasi oleh prinsip CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Peningkatan kadar CBSA dalam kegiatan pembelajaran, menuntut penggunaan strategi dan metode pembelajaran secara beraneka ragam. Penerapan strategi yang memungkinkan adalah “self directed” dan “interlearning”. Selanjutnya, dalam peningkatan Cara Belajar Siswa Aktif, anak-anak hendaknya telah memiliki pengetahuan yang memadai, kenal akan berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Anak-anak harus trampil menggunakan alat-alat belajar. Anak-anak mempunyai ketrampilan dasar pembelajaran, membaca, mengamati, mampu berkomunikasi dengan baik. Dalam rangka Cara Belajar Siswa Aktif, kegiatan pembelajaran harus membiasakan anak menggunakan berbagai sumber belajar, baik yang ada di dalam sekolah, maupun di luar sekolah. Yang dimaksud sumber belajar adalah segala sumber pesan, manusia, lingkungan dan teknik yang dapat digunakan oleh anak, baik sendiri maupun bersama-sama, untuk membantu belajarnya.

 

 

Ada dua macam sumber belajar yaitu :

  1. Sumber belajar yang memang dikembangkan dan disiapkan untuk membantu belajar,yang merupakan komponen sistem pembelajaran, biasa disebut “resources by design”.
  2. Sumber belajar yang tidak secara khusus untuk sumber pembelajaran, tapi dapat digunakan untuk belajar, yang biasa disebut “resources by utilization” (Suprihadi, 1993:9).

Penggunaan berbagai sumber belajar ini mengisyaratkan bahwa guru bukan satu-satunya sumber belajar. Dengan perancangan sumber belajar yang demikian itu, akan membantu siswa untuk terbiasa belajar sendiri tanpa harus di bawah pengaruh otoritas guru.

Mengembangkan kemampuan belajar mandiri, dengan menggali berbagai sumber belajar di luar guru, di luar buku paket, bahkan di luar sekolah. Pendidikan yang berorientasi pada penguasaan Teknologi Era Globalisasi diwarnai oleh persaingan. Oleh karena itu dibutuhkan sumber daya manusia yang mempunyai keunggulan kompetitif. Wardiman (1993) menyebutkan untuk mengatasi persaingan, dunia industri harus, (1) menguasai teknologi produksi untuk mendapatkan kualitas produk yang tinggi, (2) menguasai teknologi produk agar bersaing, (3) menguasai teknologi manajemen untuk mendapatkan harga yang layak, (4) mempunyai tenaga kerja yang trampil dalam proses produksi atau teknologi produk (Wardiman, 1993).

Soemitro (1981) menyebutkan, mengingat konstelasi masyarakat kita dan melihat masalah perkembangan masa depan, ada tiga teknologi yang harus dikembangkan, (1) teknologi maju, (2) teknologi adaptif dan, (3) teknologi protektif. Teknologi maju masa depan adalah teknologi produksi ekstratif bidang metalurgi, teknologi mineral dan energy (Nuklir). Teknologi adaptif, teknologi yang bersumber dari penelitian negara maju yang diolah sesuai dengan kondisi masyarakat kita. Teknologi protektif, teknologi perlindungan alam dan lingkungan (Soemitro, 1981).

Selain peningkatan jumlah insinyur dan pakar bidang ilmu murni, Soedjatmoko (1993) menuliskan universitas perlu mengembangkan disiplin ilmiah yang melandasi teknologi, seperti Solid State Physics dan Matematika untuk mikro elektronika dan biologi mikro (Soedjatmoko, 1993). Lebih lanjut ia menyebutkan, teknologi yang paling besar dampaknya atas perkembangan masyarakat adalah bidang bioteknologi, mikro elektronika, informatika dan teknologi bahan (material technology) (Soedjatmoko, 1993).

Untuk mengimbangi kejutan masa depan, Toffler  menawarkan strategi penakatnya. Disebutkannya untuk mempertahankan keseimbangan selama terjadinya revolusi super industrial adalah dengan menandingi penemuan baru (Toffler, 1970). Persoalannya untuk negara-negara miskin, sarana dan prasarana riset dasar sangat tidak memadai, sehingga penemuan-penemuan baru sangat langka adanya. Herman Kahn menyebutkan, kegiatan R&D (Research and Development)  di negara miskin 2,5 persen, sementara di negara kaya mencapai 97,5 persen (Rais, 1993 dalam Tuhuleley, 1993).

Khususnya di Indonesia, menurut Anwar et al (1990), tantangan yang dihadapi untuk penerapan dan pengembangan IPTEK pada PJPT II adalah (1) jumlah terbesar penduduk usia sepuluh tahun ke atas dan angkatan kerja yang tidak tamat SD sebesar 44,9 persen dari jumlah angkatan kerja sebanyak 74,6 juta dan lulusan perguruan tinggi 1,61 persen, itupun lulusan eksakta +28,9 persen dan sisanya lulusan ilmu social, (2) bagian terbesar unit usaha berskala kecil dan nonformal, (3) peningkatan pengangguran terbuka angkatan kerja lulusan SLTP dan yang lebih tinggi, (4) pendidikan menengah dan tinggi relatif rendah, (5) kurangnya tenaga ristek, (6) rendahnya kesehatan relative terhadap negara ASEAN, (7) industri manufaktur mengarah industri berat, (8) urbanisasi meningkat, (9) pemasukan dana luar negara berkurang, teknologi meluas dan mendalam (Anwar et.al, 1990 dalam Iskandar, 1991).

Peranan guru dalam pendidikan masa depan harus memenuhi dan mampu melaksanakan beberapa aspek penting yaitu:

a. Dalam Proses Belajar Mengajar

Sebagaimana telah di ungkapkan diatas, bahwa peran seorang guru sangar signifikan dalam proses belajar mengajar. Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb. Yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai:

1)      Demonstrator

2)      Manajer/pengelola kelas

3)      Mediator/fasilitator

4)      Evaluator

b. Dalam Pengadministrasian

Dalam hubungannya dengan kegiatan pengadministrasian, seorang guru dapat berperan sebagai:

1)      Pengambil insiatif, pengarah dan penilai kegiatan

2)      Wakil masyarakat

3)      Ahli dalam bidang mata pelajaran

4)      Penegak disiplin

5)      Pelaksana administrasi pendidikan

c. Sebagai Pribadi

Sebagai dirinya sendiri guru harus berperan sebagai:

1)      Petugas sosial

2)      Pelajar dan ilmuwan

3)      Orang tua

4)      Teladan

5)      Pengaman

d. Secara Psikologis

Peran guru secara psikologis adalah:

1)      Ahli psikologi pendidikan

2)      Relationship

3)      Catalytic/pembaharu

4)      Ahli psikologi perkembangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dalam pendidikan masa depan strategi  yang tepat adalah suatu target atau tata cara proses yang mengarah pada pembekalan peserta didik mulai tingkat dasar hingga atas dalam rangka memandirikan peserta didik untuk menghadapi masa depan yang kompleks. Dalam pembuatan kurikulum harus menganggap  belajar sebagai proses yang terus-menerus dan mengingat kebutuhan peserta didik akan semua aspek kehidupan.

Dalam proses belajar mengajar masa depan digunakan system belajar siswa aktif (CBSA). Dalam system ini peserta didik akan mendapat pengalaman dan pengetahuan yang lebih besar karena peserta didik di tuntut untuk mampu menyelesaikan seluruh permasalahan yang di berikan, sedangkan pendidik sebagai fasilitator yang mengarah-arahkan dan membimbing untuk kesempurnaan penyerapan materi dan praktek oleh peserta didik.

B. Saran

Mahasiswa diharapkan mampu memahami lebih dalam mengenai strategi pendidikan masa depan dan proses belajar mengajar dalam pendidikan nasional masa depan serta dapat menerapkan pemahamannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Cropley, A.J. 1990. Pendidikan Seumur Hidup. Surabaya: Usaha Nasional.

Mbulu, Joseph ,dkk. 2005. Pengantar Pendidikan. Malang: Laboratorium Teknologi Pendidikan       Universitas Negeri Malang.

Vaizey, John.1974. Pendidikan di Dunia Modern. Jakarta: PT Enka Parahiyangan.

Muhamad azhar, lalu.1993.proses belajar mengajar pola cbsa.surabaya:usaha nasional

Sardiman, A.M.1986.interaksi dan motivasi belajar mengajar.jakarta:grafindo persada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: